Profil CU AMARTA & Penggagas

Profile CU Amarta

Tanggal pembentukan: 23 Februari 2005

Jumlah Anggota Awal (Pendiri): 9 Orang

Jumlah modal awal (Saat Didirikan): Rp 273.000,-

Jumlah Anggota saat ini: 578 orang

Jumlah Unit Kelompok: 11 Kelompok Unit

Jumlah Asset Berputar: Lebih dari 2 Milyar

Jumlah Unit Kegiatan/Aktivitas: 8 Unit Kegiatan, antar lain: 

  1. Pelayanan Simpan Pinjam untuk anggota dengan maksimal pinjaman sampai 40 juta rupiah per-anggota.
  2. Pelayanan Simpanan (Tabungan) Mingguan.
  3. Program Pinjaman Kelompok.
  4. Penyelenggaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
  5. Penyelenggaraan Program KF Paket A, B dan C Reguler.
  6. Penyiaran Radio Komunitas.
  7. Kelompok Peternak Sapi Tanggung Renteng.
  8. Program Penghijauan Desa Bernilai Ekonomis.
Profil Penggagas & CU Amarta (sebelumnya CU BIMA), hasil liputan Media

Hadi Siswoyo: Sang Pelopor Credit Union Dari Air Hitam

Tidak mengecap pendidikan tinggi bukan berarti tak bisa memberi solusi cerdas bagi masyarakat di sekitar. Paling tidak, prinsip itulah yang ditanam dalam diri seorang pemuda bernama Hadi Siswoyo. Meski tak berbekal ijazah pendidikan formal namun ia mampu membangun akses ekonomi dan pendidikan yang lebih layak bagi masyarakat di desanya.

Hadi Siswoyo atau yang biasa disapa Woyo memang hanya sosok pemuda kampung yang cuma mengecap pendidikan sampai kelas 3 sekolah dasar. Usianya baru saja menapak ke-31 tahun dan telah dikaruniai dua orang putra. Kesehariannya Woyo menjalani hidup penuh kesederhanaan sebagai buruh perkebunan sawit dan jauh dari popularitas media. Desa tempatnya bermukim termasuk daerah pesisir yang terpencil, tepatnya di Desa Air Hitam, Kecamatan Aek Leidong, Kabupaten Labuhan Batu Utara.
Disebut Air Hitam, karena air di desa yang bersebelahan dengan Teluk Tanjung Balai dengan Bagan Siapi-api itu bewarna hitam kemerah-merahan. Maklumlah, dulunya Air Hitam hanya sebuah desa terisolir, tak produktif dan miskin, yang hanya ditumbuhi rawa gambut. Jadi tak heran bila konsumsi air bersih menjadi persoalan pelik bagi penduduknya yang berjumlah 1.400 Kepala Keluarga itu.

“Di kampung sini kalau konsumsi air minum kami pakai tadah hujan. Kata orang kalau minum air hujan meski sudah dimasak sekalipun bisa menganggu kesehatan. Bisa membuat tulang keropos dan gigi rapuh. Tapi terpaksa kami lakukan, karena tak ada cara lain untuk menjangkau air bersih dengan cara mudah. Kalaupun ada harus menempuh jarak yang jauh,” ujar Woyo sembari menunjukan air sumurnya yang berwarna cokelat kekarat-karatan.

Menjangkau Desa Air Hitam pun tak bisa mulus, cukup sulit dan harus ekstra hati-hati. Jalanan yang labil akibat sisa lenturan gambut semakin diperburuk dengan lubang besar menganga yang acap dijumpai di sepanjang jalanan. Begitupun kini mereka sudah patut bersyukur. Sebab jika dibandingkan beberapa dekade silam, Desa Air Hitam harus ditempuh sekitar dua hari dua malam dengan perahu dari ibu kota kecamatannya, Aek Leidong. Praktis, sejak tahun 1970-an, ketika rawa gambut diolah menjadi areal perkebunan sawit rakyat semuanya berubah drastis.

“Meski jalanannya masih berantakan, namun sekarang kami hanya butuh waktu dua jam saja untuk ke Aek Leidong,” ujar Supriadi, salah seorang warga desa.

Akses jalan yang mulai lancar ternyata sekaligus menjadi peluang bagi orang-orang dari luar untuk melakukan transaksi dagang di desa yang kini penghasil sawit itu. Fenomena tersebut juga dimanfaatkan oleh para rentenir yang berdatangan dan senantiasa membidik para petani sawit yang mulai bangkit secara ekonomi untuk mempolakan hidup konsumtif. Sekitar tahun 1996, hampir seluruh keluarga di Desa Air Hitam terjerat utang di tangan rentenir.

“Saat itu, marak-maraknya rentenir datang ke sini untuk membujuk warga. Segala macam cara mereka lakukan. Intinya rentenir meminjamkan uangnya untuk modal usaha atau keperluan konsumtif lainnya dengan bunga yang tinggi. Sehingga warga harus mengangsur bunga uang setiap harinya,” kenang Woyo.

Keterpurukan ekonomi masyarakat akibat utang kian hari kian meningkat. Kondisi inilah yang pada akhirnya membangkitkan kesadaran Woyo untuk melakukan sesuatu. Maka di tahun 2007 Woyo menggagas usaha koperasi kelompok semacam Credit Union. Lembaga itu kini bernama Credit Union Bima. Usaha ini mirip pola Grameen Bank yang dipopulerkan oleh Muhammad Yunus di Banglades untuk memberikan bantuan pinjaman modal usaha dengan bunga kecil bagi anggota kelompoknya.

Perjuangan Woyo dalam membangun Credit Union tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak haling-rintang bahkan cercaan masyarakat pada awal Woyo menggiatkan. Terlebih kapasitasnya yang tak berpendidikan tinggi membuat masyarakat ragu menaruh kepercayaan terhadap dirinya.

“Awalnya, kalaupun ada masyarakat yang menjadi anggota CU hanya sekadar ikut-ikutan,” ujar Woyo. Namun dirinya tak pantang surut. Modal ilmu pengetahuan praktis tentang perekonomian rakyat yang pernah didapatnya dari Bitra Indonesia, sebuah LSM di Medan, ia jadikan pemompa semangat sekaligus yang menginspirasikannya untuk membangun lembaga keuangan di desanya.

Hasilnya, usaha pinjaman kelompok yang dilakukannya telah menuai hasil dan berkembang pesat.
Saat ini Credit Union Bima yang digagasnya memiliki aset hampir Rp 2 miliar. Dengan anggota sebanyak 200-an orang terdiri dari lelaki dan perempuan. Bahkan beberapa unit Credit Union lainnya akan segera terbentuk di beberapa daerah tetangganya di Labura.

“Usaha ternak sapi yang diterapkan secara bergulir oleh anggota kini berkembang pesat. Para petani sawit pun sekarang dapat memanfaatkan pinjaman dari CU Bima untuk modal usaha tanpa harus meminjam lagi kepada rentenir yang mencekik leher,” kata Supriadi, orang yang pernah menjabat bendahara di CU Bima.

Begitupun, lantaran dendam positif terhadap minimnya akses sekolah yang sempat Woyo rasakan di masa belia dahulu, kini memotivasinya untuk memfasilitasi lembaga pendidikan yang belum tersedia di desanya. Ia tak ingin anak-anak di desanya tertinggal dalam pendidikan seperti dirinya.

Lalu laba usaha koperasi Bima yang dirintisnya dialihkan dan diberdayakan untuk membangun Taman Pendidikan Anak (TPA). Kini anak-anak usia sekolah di Air Hitam bisa dengan layak mengikuti proses belajar mengajar di sebuah ruangan permanen yang juga diperuntukkan sebagai kantor CU Bima. “Ada sekitar empat staf pengajar yang mendidik anak-anak di sekolah ini,” terang Woyo.

Agar masyarakat Air Hitam tak tertinggal dalam bidang teknologi dan informasi, maka 12 unit komputer yang dilengkapi jaringan internet telah pula dioperasikan di desanya. Ini juga bagian dari usaha bersama milik anggota CU Bima. Tak sekadar itu, bahkan, saat ini obsesi Woyo tengah merancang pendidikan alternatif setingkat Sekolah Menengah Umum (SMU). Memang, sekolah SMU belum tersedia di Air Hitam. Bila ada, mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh ke desa tetangganya.

“Saya cukup tertarik dengan pendidikan karena saya pernah merasakan betapa tak enak dan sedihnya kalau kita tak mendapat akses pendidikan yang cukup. Ada rasa minder diri,” kata Woyo lagi.

Ya, meski Hadi Siswoyo hanyalah potret seorang pemuda dari masyarakat kelas rendah, namun karya dan jasanya terbilang besar dan bermanfaat bagi banyak orang di desanya. Ia mampu menghalau jerat jaring rentenir sekaligus kebodohan yang sempat singgah di tanah kelahirannya.
Barangkali lantaran itu pula, kemudian British Council melirik sosok Woyo sebagai salah seorang finalis Social Intrepreneur di abad ini. Dalam proposal-nya, kepada British Council Woyo menjelaskan solusi pengadaan air bersih di kampungnya. Semoga apa yang sedang diperjuangan maupun yang menjadi obsesi Woyo untuk membantu masyarakat Air Hitam dalam memperoleh air bersih menjadi sebuah kenyataan. (Onny Kresnawan)

Sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s